Category: Perjalanan hidup

  • Lahir di Pangkalpinang, Bangka

    Lahir di Pangkalpinang, Bangka

    Saya Munir Hasan Basri, biasa dipanggil Munir. Karena nama belakang Hasan Basri Sulaiman adalah nama ayah dan Sulaiman adalah nama kakek. Semasa kecil saya tidak pernah mengenal kakek Sulaiman.

    Saya lahir di Pangkalpinang, tepat di Balai kesahatan DKT, sekarang masih ada balai kesehatan itu. Lahir dengan Bidan 4 Februari 1966. Tak terbayangkan dalam kondisi Indonesia masih berjuang mempertahankan kemerdekaannya. Lahir dari ayah, Hasan Basri Sulaiman. Serorang tokoh agama terkenal di Bangka pada masanya dan menjadi tokoh yang berpengaruh Muhammadiyah. Dan ada kenangannya dengan nama ayah kami, ada nama Masjid Muhajirin di jalan Balai waktu itu, dan nama ayah diabadikan oleh PEMDA Pangkalpinang mengganti jalan balai.

    Oh ya, jadi nama ibu kami ibu Maimunah, seorang ibu rumah tangga, yang taat kepada ayah.

    Latar belakang agama dari ayah yang menjadi guru agama di PT. Timah Bangka saat itu. Ayah menjadi penceramah yang disukai di Bangka dan Belitung dan pendiri Masjid Al Muhajirin jl. Balai Pangkal pinang dan ketua Muhammadiyah Bangka pada masanya. Kami adalah anak kelima dari 8 bersaudara. Ir. Mudzakkir Hasan Basri, Ir. Munawwir Hasan Basri, Prof. Mubasyir Hasan Basri, Ir. Mundzir Hasan Basri, Phd, Husnayani Hasan Basri Apt, Ir. Husni Ridwan Hasan Basri, Ir. Mursyid Hasan Basri, Phd.

    Foto bersama saudara masa kecil di depan Masjid Muhajirin 1976

    Kami menjadi yatim sejak kelas 5 SD dan Mak Maimunah yang menghidupi dengan berjualan keliling. Akhirnya Mak pun melanjutkan posisi ayah sebagai penceramah dan mampu mensarjanakan semua anaknya.

    Masa kecil banyak membantu orang tua dengan berbagai aktivitas rumah dan masih sempat untuk bermain atau berolahraga. Membersihkan rumah setiap hari dan kebiasaan baik di kala itu memberi kebiasaan baik di masa sekarang. Sejak kecil suka bermain catur, bola, badminton, bola volley, bola basket membentuk kerpibadian yang baik. Kami melanjutkan SMA di Bandung dan kuliah di ITB. Kami bersyukur sekali dengan perjalanan hidup sampai sekarang.

    Kami sendiri sudah berkeluarga, isteri tercinta Wagiati Romlah dengan 4 anak yang masih hidup, Nur Aini, Nur Fikri, Nur Anisah dan Ahmad Fajri. Dua anak kami sudah meninggal lebih dulu yaitu anak pertama Ahmad Zaqi dan anak keempat Nur Faridah.

    Perjalanan kami yang dimulai dari SD sampai SMP di Pangkalpinang dan melanjutkan SMA di Bandung dan kuliah di ITB.

    Ikuti terus perjalanan kami selanjutnya