Dari Pangkalpinang Hingga Menapaki Jalan Kehidupan
Nama saya Munir Hasan Basri, atau lebih akrab dipanggil Munir. Nama ini memiliki kisah tersendiri yang berkaitan dengan keluarga dan sejarah hidup kami. Nama belakang Hasan Basri Sulaiman sebenarnya berasal dari nama ayah dan kakek kami. Hasan Basri adalah nama ayah kami, sedangkan Sulaiman adalah nama kakek kami. Namun demikian, semasa kecil kami tidak pernah mengenal langsung kakek Sulaiman. Beliau telah lebih dahulu meninggalkan dunia sebelum kami sempat merasakan kehadirannya.
Walaupun demikian, nama keluarga tersebut tetap menjadi bagian penting dari identitas kami. Nama bukan sekadar rangkaian huruf, tetapi juga membawa nilai, sejarah, dan tanggung jawab moral untuk menjaga kehormatan keluarga. Seiring bertambahnya usia, kami semakin menyadari bahwa nama yang kami sandang juga membawa amanah untuk meneruskan nilai-nilai baik yang diwariskan oleh orang tua kami.
Kelahiran di Pangkalpinang
Saya dilahirkan di Pangkalpinang, sebuah kota yang menjadi ibu kota Pulau Bangka. Kota ini memiliki sejarah panjang sebagai pusat aktivitas masyarakat Bangka, terutama sejak masa penambangan timah yang menjadi salah satu kekuatan ekonomi wilayah tersebut.
Kami lahir pada 4 Februari 1966, di sebuah tempat yang pada masa itu dikenal sebagai Balai Kesehatan BKT. Hingga hari ini, bangunan balai kesehatan tersebut masih ada dan menjadi saksi sejarah kelahiran kami. Kami dilahirkan dengan bantuan seorang bidan yang membantu proses persalinan ibu kami.
Ketika mengenang masa kelahiran tersebut, sering kali muncul perasaan takjub. Tahun 1966 merupakan masa yang tidak mudah bagi Indonesia. Negara ini masih berada dalam masa transisi setelah berbagai pergolakan politik dan ekonomi. Bangsa Indonesia pada waktu itu masih berjuang menata kehidupan setelah melewati masa-masa awal mempertahankan kemerdekaan.
Dalam kondisi negara yang masih berkembang dan penuh tantangan tersebut, kami dilahirkan di sebuah keluarga sederhana yang menjunjung tinggi nilai agama dan pendidikan.
Ayah: Hasan Basri Sulaiman
Ayah kami bernama Hasan Basri Sulaiman. Beliau merupakan seorang tokoh agama yang cukup dikenal di Bangka pada masanya. Ayah bukan hanya seorang guru agama, tetapi juga seorang penceramah yang disegani dan dicintai oleh masyarakat.
Pada masa itu, ayah bekerja sebagai guru agama di PT Timah Bangka, sebuah perusahaan yang sangat penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat Bangka. Namun peran ayah tidak berhenti di situ. Beliau juga aktif dalam kegiatan dakwah dan pendidikan keagamaan di masyarakat.
Ayah sering memberikan ceramah agama di berbagai daerah di Bangka dan Belitung. Cara beliau menyampaikan dakwah dikenal sangat menyentuh dan mudah dipahami oleh masyarakat. Banyak orang yang datang untuk mendengarkan ceramah beliau karena cara penyampaiannya yang penuh hikmah.
Selain menjadi penceramah, ayah juga memiliki peran penting dalam organisasi keagamaan. Beliau pernah menjadi ketua Muhammadiyah Bangka pada masanya. Dalam posisi tersebut, ayah berperan aktif dalam mengembangkan kegiatan dakwah dan pendidikan Islam di wilayah Bangka.
Warisan Ayah dalam Kehidupan Masyarakat
Salah satu warisan yang masih dapat dilihat hingga sekarang adalah Masjid Al Muhajirin yang terletak di Jalan Balai, Pangkalpinang. Masjid ini merupakan salah satu tempat ibadah yang didirikan dengan peran besar ayah kami.
Masjid tersebut menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat di sekitarnya. Hingga kini, masjid tersebut masih berdiri dan terus digunakan oleh masyarakat untuk beribadah dan berbagai kegiatan keagamaan.
Selain itu, penghargaan masyarakat terhadap ayah kami juga tercermin dari keputusan Pemerintah Daerah Pangkalpinang yang mengabadikan nama ayah sebagai nama jalan di kota tersebut. Jalan Balai kemudian diganti dengan nama yang mengabadikan jasa ayah kami.
Bagi keluarga kami, hal tersebut merupakan sebuah penghormatan yang sangat besar. Namun lebih dari itu, kami memandangnya sebagai pengingat bahwa kehidupan seseorang akan dikenang bukan karena kekayaan atau jabatan, tetapi karena manfaat yang diberikan kepada masyarakat.
Ibu: Maimunah Hasan Basri
Di balik sosok ayah yang dikenal masyarakat, ada sosok ibu yang luar biasa, yaitu Ibu Maimunah.
Ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang sangat setia mendampingi ayah. Beliau menjalankan perannya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Kehidupan keluarga kami pada masa itu sangat sederhana, namun dipenuhi dengan nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan.
Ibu selalu mendukung aktivitas ayah dalam berdakwah. Beliau juga mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak dengan penuh kasih sayang.
Dalam kehidupan keluarga kami, ibu merupakan sosok yang sangat kuat. Ketika berbagai ujian kehidupan datang, beliau tetap menunjukkan keteguhan hati yang luar biasa.
Delapan Bersaudara
Kami berasal dari keluarga besar dengan delapan orang anak. Saya merupakan anak kelima dalam keluarga.
Berikut adalah saudara-saudara kami:
- Ir. Mudzakkir Hasan Basri
- Ir. Munawwir Hasan Basri
- Prof. Mubasyir Hasan Basri
- Ir. Mundzir Hasan Basri, PhD
- Munir Hasan Basri
- Husnayani Hasan Basri, Apt
- Ir. Husni Ridwan Hasan Basri
- Ir. Mursyid Hasan Basri, PhD
Setiap saudara memiliki perjalanan hidupnya masing-masing, namun kami semua dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang menekankan pentingnya pendidikan, disiplin, dan nilai agama.
Salah satu kenangan yang sangat berharga adalah foto bersama saudara-saudara kami di depan Masjid Muhajirin pada tahun 1976. Foto tersebut menjadi simbol kebersamaan keluarga kami pada masa kecil.
Menjadi Yatim Sejak Kelas 5 SD
Perjalanan hidup kami mengalami perubahan besar ketika kami masih duduk di kelas 5 Sekolah Dasar. Pada masa itu, ayah kami meninggal dunia.
Kehilangan ayah pada usia yang masih sangat muda merupakan ujian yang sangat berat bagi keluarga kami. Ayah yang selama ini menjadi pemimpin keluarga dan panutan masyarakat tiba-tiba tidak lagi bersama kami.
Namun dalam kondisi yang penuh kesedihan tersebut, ibu menunjukkan keteguhan hati yang luar biasa.
Perjuangan Ibu Maimunah
Setelah ayah meninggal dunia, ibu harus memikul tanggung jawab besar untuk membesarkan dan menghidupi delapan orang anak.
Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ibu berjualan keliling. Dengan usaha sederhana tersebut, ibu berjuang keras agar anak-anaknya tetap dapat melanjutkan pendidikan.
Tidak hanya itu, ibu juga melanjutkan peran ayah sebagai penceramah agama. Dengan kemampuan yang beliau miliki, ibu tetap aktif dalam kegiatan dakwah di masyarakat.
Perjuangan ibu merupakan salah satu inspirasi terbesar dalam kehidupan kami. Dengan segala keterbatasan yang ada, beliau tetap mampu membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.
Yang paling luar biasa adalah ibu berhasil menyekolahkan seluruh anaknya hingga menjadi sarjana.
Hal ini tentu bukan perkara mudah bagi seorang ibu yang harus membesarkan delapan anak seorang diri. Namun dengan kerja keras, doa, dan keyakinan kepada Allah, ibu mampu melewati semua tantangan tersebut.
Masa Kecil yang Penuh Aktivitas
Masa kecil kami di Pangkalpinang dipenuhi dengan berbagai aktivitas yang membentuk karakter.
Sebagai anak dalam keluarga besar, kami terbiasa membantu orang tua dalam pekerjaan rumah. Setiap hari kami belajar membersihkan rumah, merapikan lingkungan, dan melakukan berbagai pekerjaan sederhana lainnya.
Kebiasaan ini ternyata memberikan pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan kami hingga saat ini. Disiplin, tanggung jawab, dan kebiasaan menjaga kebersihan menjadi bagian dari karakter yang terbentuk sejak kecil.
Kegemaran Berolahraga
Selain membantu orang tua, masa kecil kami juga diisi dengan berbagai kegiatan olahraga.
Sejak kecil kami sangat menyukai berbagai jenis olahraga, antara lain:
- Catur
- Sepak bola
- Badminton
- Bola voli
- Bola basket
Olahraga tidak hanya memberikan kesenangan, tetapi juga mengajarkan banyak nilai penting seperti kerja sama, sportivitas, dan semangat untuk berusaha.
Permainan catur, misalnya, melatih kemampuan berpikir strategis. Sementara olahraga tim seperti sepak bola dan bola voli mengajarkan pentingnya kerja sama dalam mencapai tujuan bersama.
Melanjutkan Pendidikan ke Bandung
Setelah menyelesaikan pendidikan di Pangkalpinang hingga tingkat SMP, perjalanan pendidikan kami berlanjut ke Bandung untuk melanjutkan SMA.
Perpindahan dari Pangkalpinang ke Bandung merupakan pengalaman yang sangat besar dalam kehidupan kami. Kota Bandung memiliki suasana yang sangat berbeda dibandingkan dengan kota kecil tempat kami dibesarkan.
Bandung dikenal sebagai salah satu kota pendidikan di Indonesia. Lingkungan akademik yang kuat serta kehadiran berbagai perguruan tinggi ternama membuat kota ini menjadi tempat yang sangat kondusif untuk belajar.
Di sinilah kami mulai mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB)
Setelah melalui proses belajar yang panjang, kami akhirnya berhasil melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB).
ITB merupakan salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, khususnya dalam bidang sains dan teknologi. Belajar di kampus ini memberikan banyak pengalaman berharga.
Lingkungan akademik yang penuh tantangan membuat kami terus belajar dan berkembang. Diskusi dengan teman-teman, bimbingan dari dosen, serta berbagai kegiatan mahasiswa membantu memperluas wawasan dan kemampuan berpikir.
Kehidupan Keluarga
Dalam perjalanan hidup, kami juga membangun keluarga bersama istri tercinta Wagiati Romlah.
Kami dikaruniai beberapa orang anak yang menjadi kebahagiaan dalam kehidupan kami.
Anak-anak kami adalah:
- Nur Aini
- Nur Fikri
- Nur Anisah
- Ahmad Fajri
Namun kehidupan juga memberikan ujian yang berat. Dua anak kami telah lebih dahulu meninggal dunia, yaitu:
- Ahmad Zaqi (anak pertama)
- Nur Faridah (anak keempat)
Walaupun kehilangan anak merupakan pengalaman yang sangat menyedihkan, kami belajar untuk menerima takdir dengan penuh keikhlasan.
Rasa Syukur atas Perjalanan Hidup
Ketika melihat kembali perjalanan hidup dari Pangkalpinang hingga berbagai pengalaman yang kami jalani sampai sekarang, kami merasa sangat bersyukur kepada Allah.
Perjalanan hidup ini dipenuhi dengan berbagai ujian, perjuangan, dan pembelajaran. Namun setiap pengalaman tersebut memberikan pelajaran yang sangat berharga.
Kami belajar bahwa kehidupan tidak selalu mudah, tetapi dengan kerja keras, doa, dan ketekunan, setiap tantangan dapat dihadapi.
Awal dari Kisah yang Lebih Panjang
Perjalanan hidup yang dimulai dari masa kecil di Pangkalpinang, kemudian berlanjut ke Bandung, hingga akhirnya menempuh pendidikan di ITB, hanyalah awal dari perjalanan panjang kehidupan kami.
Masih banyak kisah, pengalaman kerja, serta perjalanan karier yang menjadi bagian penting dari kehidupan ini.
Ikuti terus perjalanan kami selanjutnya.
Masih banyak cerita yang ingin kami bagikan tentang perjalanan dari seorang anak di Pangkalpinang hingga berbagai pengalaman dalam dunia profesional, pelatihan, dan kehidupan.